Kemanakah tim terbaik untuk Sabonis di NBA?

Mencetak rataan 20 poin in line with pertandingan tidak akan seketika langsung membuat seorang pemain langsung bisa membawa timnya berbicara banyak di NBA. Bukan tanpa alasan, sebagai olahraga kelompok, sangat diperlukan kombinasi-kombinasi tertentu yang membuat sebuah tim dapat melakukan perpaduan yang berguna untuk merebut gelar.

 

Hal yang sama terjadi pada seorang Domantas Sabonis dan Indiana Pacers. Ketika ia mencetak 18 tiap laga, ia mampu bawa timnya ke playoff di 2020 -walau harus disapu 0-4 oleh warmth-. Namun, saat Sabonis memperbaiki performa dengan menyumbang 20 angka, timnya malah tertahan di peringkat 10 dan kalah dari Hornets di play in musim lalu.

 

Perpaduan kombinasi dirinya dengan beberapa pemain yang menjadi kuncinya. Pemain Lithuania ini sanggup rutin membuat dua digit rebound dan assist yang tidak sedikit untuk ukuran seorang bigman seperti dirinya. Namun, prestasi Pacers selama beberapa musim membuktikan bahwa Sabonis bukanlah orang yang dicari oleh Pacers.

 

Tanpa bermaksud mengecilkan sumbangsih pemain 25 tahun, selama ia berkarier bersama Pacers four musim terakhir, tim asal Indianapolis selalu berhenti di ronde pertama playoff. Ketika pemain yang pernah bermain di OKC Thunder ini menjadi fondasi Pacers, tidak ada yang meragukan kemampuannya, namun hasil telah berbicara.

 

Jangan heran jika sekarang, front office Pacers merasa bahwa sudah waktunya melakukan rebuild untuk dapat mencari komposisi yang pas untuk tim tersebut. Sedangkan untuk pemain kelahiran three Mei 1996 ini, sudah waktunya untuk mencari pelabuhan baru yang dapat membantunya keluar dari bayang-bayang kejayaan ayahnya, Arvyda Sabonis. Namun, tim mana yang cocok untuk pemain yang tampil di dua edisi all star ini?

 

Tim pertama yang patut diperhitungkan adalah Dallas Mavericks. Luka Doncic butuh bantuan segera jika Mark Cuban tidak ingin pemain kesukaannya tersebut angkat kaki dari American airways middle. Kristaps Porzingis yang diharap bisa membantu Luka, malah lebih konsisten dengan inkonsistesinya sendiri. Belum lagi karakter permainan KP yang seringkali lebih banyak bermain di luar area perimeter.

 

Kehadiran Sabonis di tim juara 2011 ini bisa menjadi bantuan di dalam place perimeter. Sebab, statistik dua digit rebound dan poin sudah menjadi indikator bahwa Sabonis adalah pemain yang bisa mendulang angka dari dalam, serta menjadi seorang slasher yang menusuk ke place paint untuk cetak skor.

 

Tim lain yang bisa saja menjadi destinasi selanjutnya dari pemain setinggi 211 CM ini adalah Portland path Blazers yang tengah bimbang antara memilih CJ McCollum atau Damian Lillard. Namun, untuk mempertahankan Lillard, bisa saja pihak manajemen tim asal negara bagian Oregon melakukan pertukaran antara McCollum dengan Sabonis.

 

Apa yang terjadi di Blazers adalah kondisi yang sama dengan Pacers di mana dalam 4 dari five musim terakhir, berakhir di ronde pertama dan prestasi terbaiknya adalah very last wilayah barat di 2019 saat mereka dibantai Warriors.

 

Jika benar-benar terjadi, Sabonis bisa menjadi associate pick and roll untuk Damian Lillard sebagaimana ia berkombinasi dengan Caris LeVert di Indiana. Ia pun bisa menghadirkan sumbangan poin secara konsisten untuk bisa membantu Lillard.

 

Selain Mavs dan Blazers, tim lain yang bisa saja menjadi pelabuhan selanjutnya dari Sabonis adalah Hornets yang nampaknya sedang mempersiapkan diri membangun tim di sekitar LaMelo. Terlepas dari segala spekulasi tersebut, semoga Sabonis bisa segera mendapat tim yang tepat dan memberikan kontribusi di tim barunya nanti.

 

tags: berita nba, stephen curry